#IkanNiuDiluarRencana Pecco Bagnaia and His Wheel Of Life, Kegagalan Belum Berakhir Bahkan Di Rumah Sendiri #SanMarinoGP: Saya Terus Gagal Karena Saya Terus Berusaha
Crash lagi dan crash lagi. #IkanNiuDiluarRencana Pecco Bagnaia memang sedang berada di titik terenda karirnya. Crash kemarin di Sprint Race udah dia anggap penghinaan dan kali ini crash lagi dan dia akhirnya sampai pada titik menerima bahwa dia sudah melakukan yang terbaik tetapi sesuatu diluar kendalinya yang dia tidak tau apa membuat semua usahanya sia-sia. Traktor dia teteup aja mangkrak. Seperti berada di pasir isap, dia terjebak dan semakin dia berusaha semakin tenggelam dia dalam kegagalan dan frustasi sendiri. Di titik ini lu akan mengerti kenapa #JurdunMenclaMencle Fabio Quartararo bisa bilang berhenti mengembangkan motor Yamaha M1 V4 karena alasan personal. Semakin lu berusaha semakin lu gagal.
"Ya, ini akhir pekan yang berat, sekali lagi. Saya memulai lebih baik daripada kemarin, saya berada di sepuluh besar, dan begitu Franco (Morbidelli) menepi untuk melakukan long lap, saya mencoba mengikuti Diggia, yang memiliki kecepatan bagus sepanjang akhir pekan. Begitu saya mencoba membawa sedikit lebih banyak kecepatan di tikungan, saya kehilangan kendali bagian depan motor. Jadi setidaknya hari ini ada alasan untuk kecelakaan itu: Saya mencoba membawa lebih banyak kecepatan. Tapi sayang sekali, karena saya pikir kami bisa berbuat lebih banyak, dan finish di sepuluh besar hari ini akan menjadi hasil yang luar biasa" kata Pecco tidak menyesali crashnya. Dia crash karena berusaha cepat.
“Seperti biasa. Untuk melaju cepat di atas sepeda motor, Anda harus berusaha, dan kenyataan bahwa saya terus jatuh justru karena saya berusaha sampai akhir. Dan saya akan terus melakukannya sampai akhir. Sangat sulit menerima hasil seperti ini (nol poin berturut-turut), karena Anda bekerja sangat keras Team saya melakukan yang terbaik untuk membantu saya merasa nyaman, tetapi sayangnya saya tidak merasa nyaman. Saya tidak mengerti mengapa hal-hal tertentu tidak lagi berjalan lancar bagi saya , terutama saat mengerem, memasuki tikungan, dan melewati tikungan. Anda harus menerima kenyataan dan mencoba untuk meningkatkannya dari sana" katanya yang juga bingung ketika para rider sepakat grip Misano berlimpah, dia justru g ada grip.
"Saat ini, kita harus mulai dari kenyataan bahwa level saya mungkin berada di peringkat kesembilan atau kesepuluh . Dan kita harus mulai dari sana. Saya sangat kesulitan dan bahkan tim pun tidak bisa menjelaskannya, itulah mengapa ini sulit. Sulit untuk mengetahui dan menjawab apakah ini berkaitan dengan karakter sirkuit. Di Brno juga tingkat daya cengkeramnya tinggi dan cukup mirip dengan yang ini, tetapi di sana perasaan saya sedikit lebih baik dan saya memiliki lebih sedikit masalah dengan grip ban belakang. Namun, akhir pekan ini, saya kembali berada dalam situasi yang sangat sulit: saya merasa gripnya nol. Saya juga berbicara dengan pembalap lain dan mereka mengatakan gripnya tinggi, tetapi saya tidak merasakannya. Sulit untuk memahami mengapa. Tetapi inilah situasinya dan kita harus terus bekerja untuk mencoba menyelesaikan masalah ini" katanya yang bukan tanpa alasan bingung sendiri. Misano adalah tempat latihan dia secara reguler. Dengan motor latihan Panigale, dia tau dengan jelas sirkuit ini dan menikmati kecepatannya. Tapi begitu kembali ke atas Desmo GP26 dan ban Michelin, dia bahkan bingung sama motornya dan bannya yang tanpa grip. Dia pada akhirnya harusmove on dan menatap #AustrianGP
“Ya, ini sirkuit yang bagus untuk Ducati dan salah satu yang terbaik untuk saya. Ketika saya merasa nyaman di atas motor di sana, saya mampu memenangkan balapan bahkan dengan selisih beberapa detik. Ini sirkuit yang sangat saya sukai, tetapi kita harus sampai di sana dan memahami bagaimana perasaan saya di atas motor" jawabnya sebelum akhirnya ditanya soal paceklik pembalap Italia yang bisa bagus di homerace Italia. Luca Marini sudah menjawab itulah harga mahal balapan di Italia, susah pengkaderan ujungnya bibit kurang terasah. Even VR46 Riders Academy udah berusaha mengkader, tetapi membibit pembalap bagus perlu dilakukan sejak masih kecil dan itu sulit di Italia.
“Akademi mengerahkan banyak upaya untuk ini, dan kami memiliki beberapa pembalap yang sangat kuat yang sedang berkembang dan akan berhasil. Harus dikatakan bahwa dibandingkan dengan Spanyol, ada perbedaan besar dalam komitmen terhadap sektor anak muda. Italia melakukan apa yang mereka bisa. Namun, di Spanyol, ketika masih anak-anak (di bawah 18 tahun), Anda bisa pergi dan berlatih dengan motor 600cc atau 1000cc tanpa semua batasan yang kami miliki di sini. Di Italia, sampai Anda mencapai usia tertentu, Anda tidak boleh melakukan itu. Juga berlatih di sirkuit besar di Italia hampir tidak mungkin karena biayanya tidak terjangkau (mahal). Di Spanyol, sebaliknya, ada banyak sirkuit; Anda bisa pergi ke mana saja dan biaya mengendarai motor jauh lebih murah. Ada strategi yang berbeda, dan sebenarnya, banyak pembalap Italia juga berlatih di sana. Kejuaraan utama untuk pembalap muda ada di sana (RBRC), dan motornya praktis sama dengan yang ada di Kejuaraan Dunia, jadi itu merupakan batu loncatan yang bagus. Dengan sumber daya yang kami miliki di Italia, kami dapat melakukan apa yang kami bisa, tetapi mungkin kami sedikit kekurangan struktur" tutup Pecco mengakui betapa taat hukumnya orang Italia asli klo soal motoran.
Hmmmm... Pantesan bebeb Vale bilang orang Indo agak gila klo soal motoran. Ada SIM g ada SIM ya motoran aja. Boro-boro cari sirkuit, ikut balapan liar aja mah atau iseng adu cepat di jalanan umum. Klo ketangkep banter pulang babak belur dan pitak ujungnya dihajar emak atau bapak lu (gw sih wkwkwkwk). Itu dulu. Sekarang mah adanya motoran bikin kriminal nyelakain orang, ortunya yang malah nuntut balik polisi klo anaknya kenapa-napa, boro-boro emak/bapaknya ngehajar adanya dilaporin KRDT ekekekek. We are in different era. Pecco hanya perlu menjalani ini sebaik mungkin. Gw bilang kemarin, gas aja, hancur klo hancur yang penting lu usaha. This too will pass. What a cycle.
Pertama hancurkan motornya, ke dua hancurkan mentalnya.. Ducati memang jossss... Konspirasi kemarin itu jelas banget👍👍nabung nabunglah kalian dulu
BalasHapusNah di eropa sana keknya g pernah kelihatan anak dibawah umur mengendarai motor
BalasHapusEmang g boleh. Sudah umur pun biaya SIM mahal karena dianggap menyumbang emisi gas ekekekek. Jadi mereka boleh pake motor hanya di sirkuit atau area private. Ini unggulnya Spanyol, sirkuit mereka banyak klo untuk sekedar latihan atau pengkaderan. Sedangkan di Italia, sirkuit kecil jarang. Sirkuit besar sewanya mahal.
HapusDucati kapan kena santan instan jeleknya?? Memperlakukan Pecco kayak gt,,Kalau th ini si culas yg jurdun lagi,,keenakan Ducati ..besar kepala si culas lewatin rekor Vale dan ducati akan merasa melakukan hal yg tepat
BalasHapusKatanya Martin kena arm pum ya ? Bahas donk mbak'e.....
BalasHapus