Fabio Qartararo dan Pecco Bagnaia. Para Juara Dunia Yang Akhirnya Dibantai Motor Masing-Masing di #AragonGP: Yang Satu Memutuskan Berhenti Mencoba dan Yang Satu Sudah Kehabisan Cara Untuk Mencoba
#AragonGP tampak seperti balapan pembantaian bagi kedua juara dunia MotoGP, Fabio Quartararo dan Pecco Bagnaia. Jurdun 2021 Fabio Quartararo memang setidaknya berhasil finish tetapi paling terakhir setelah di Sprint Race mesinnya meleduk, sementara Pecco menghabiskan seluruh waktunya di track untuk mempertahankan posisi dan berakhir crash. Tidak ada yang lebih menghianati seorang pejuang selain pedang yang berbalik menikam mereka sendiri. Kedua juara dunia itu sekarang ingin segera meninggalkan paddock mereka ke pabrikan baru. Gw sendiri dari pagi g tau malah kenapa kepikiran lagu putus yang isinya penuh kemuakan, well it happened. Yang satu muak mencoba dan yang satu muak mencari cara.
"Di belakang Toprak, ban depan terkunci di tikungan 7, dan saya melebar lagi setelah sempat melebar karena pengereman, saya kehilangan lebih banyak waktu. Akhirnya, semua ban terkunci dan saya berakhir di kerikil, membuat lap saya 15 detik lebih lambat. Kami kekurangan grip di mana-mana, tetapi bagi saya kondisi track tidak terlalu buruk. Saya tahu ini akan menjadi akhir pekan yang sulit, tidak ada hal positif yang bisa diambil dari akhir pekan ini. Saya akan mencoba memahami apa yang terjadi, tetapi saya sudah berhenti mencoba seratus hal berbeda setiap akhir pekan" kata jurdun 2021, Fabio Quartararo. Di sisi lain pit lane, jurdun 2022 dan 2023 Pecco Bagniaia mengahiri balapannya dengan makan batu. Kekesalannya tampak setelah crash, ketika Quartararo memutuskan berhenti mencoba, dia seolah ingin melakukan apa saja untuk dicoba sayangnya dia tidak punya apa-apa lagi untuk dicoba.
"Saya baik-baik saja. Sayangnya, saya kehilangan kendali bagian belakang mobil saat menuju garis finis, dan kemudian bagian depan terkunci. Ini kecelakaan yang berbeda dari yang di Silverstone, karena saya masih belum punya penjelasan untuk insiden itu. Sayangnya, hari ini saya mengganti gigi terlalu cepat, dan begitu beban mulai bekerja, rem terkunci. Tapi tetap berjalan dengan baik, karena jika saya langsung tancap gas, saya bisa saja melukai diri sendiri. Sayangnya, kami memiliki grip yang sangat sedikit. Dalam dua balapan terakhir, saya sering mengalami insiden di lap-lap awal, dan saya sering spinning, jadi kami pantas mendapatkan hasil yang lebih baik. Saya memberikan semua yang saya bisa dalam setiap situasi, dan ketika saya kembali ke garasi, saya mencoba untuk sejelas mungkin menjelaskan situasi tersebut untuk menemukan solusi, yang sayangnya tidak pernah datang. Faktanya adalah Anda berusaha keras, tetapi akhirnya mengalami crash ketika Anda lebih lambat satu detik. Semua ini memalukan dan menyedihkan; saya pikir ini adalah salah satu titik terendah dalam karier saya, mengingat saya tidak melihat jalan keluar, dan situasinya sebenarnya semakin memburuk dalam dua balapan terakhir. Saya telah memberikan segalanya untuk Ducati, dan sulit untuk menerima bahwa situasinya bisa seperti ini, terlepas dari komitmen saya dan semua data yang saya lihat setiap hari. Dengan motor saat ini, saya tidak bisa berkendara secara alami, dan kemudian saya jatuh" katanya dengan raut putus asa.
Satu jurdun menaiki motor V4 yang sebenarnya tidak dia inginkan karena dia ingin tetap mengendarai mesin inline yang menurutnya lebih baik dengan team yang sudah melakukan semua untuknya karena mengembalikan motor ke inline jelas tidak bisa. Satu jurdun lagi menaiki motor yang sama sekali tidak dia kenal lagi dengan team yang bahkan membuatnya merasa asing saking g pernah ketemu dia ngomong apa dan team melakukan apa ujungnya malah makin buruk. Jalan keluar...?? Just go to the way out, empty expectations.

Komentar
Posting Komentar
Ngegosip...?? Komen Gih... Tapi Inget Gw Tetap RAZIA... Ekekekekek...