Luca Marini, Rider Dihina Dan Selalu Ingin Disingkirkan Media Dan Fans Spanyol Karena Satu Darah Dengan Rossi, Justru Paling Jarang Crash Dan Berkembang Pesat Bersama Honda. Tanda Cepat Tetap Percuma Bila Cedera...?
Sejak awal musim ketika kisruh drama #JurdunMangkage Jorge Martin ingin hengkang dari Aprilia dengan mengaktifkan klauul performa, namanya adalah yang paling ingin didepak oleh media dan fans Spanyol untuk "menyelamatkan" Martin yang justru sedang di rumah karena cedera tapi berani ribut-ribut minta hengkang dari Aprilia. Marini dianggap tidak pernah mempush sampai limit meski fakta bahwa perbaikan performa Honda justru karena campur tangan dia yang didapuk oleh Papi Albesiano untuk mengumpulkan data di setiap balapan. Fakta bahwa data yang dia kumpulkan sejak tahun lalu meski dengan hinaan bahwa dia tidak pernah cepat, terbukti menjadi parameter pembanding untuk data tahun ini yang juag dia kumpulkan dengan finish poin di balapan Minggu di mana dia ada di garis start. Satu-satunya kegagalan finishnya musim ini adalah di #JapaneseGP. Itu pun karena masalah teknis dan bukan karena crash.
Dia sempat absen 3 seri musim ini karena cedera, tetapi bukan crash di track MotoGP melainkan crash ketika dia sedang bersiap melakukan tugas untuk Honda di Suzuka, Jepang. Fakta bahwa dia kembali jadi rider dengan paling sedikit crash musim ini sejauh ini (4 crash) dibanding dengan rekan sesama Honda yaitu Zarco yang paling banyak crash (26 crash kebanyak di sesi non balapan) dan Mir (19 crash kebanyakan saat balapan) tetapi di klasemen dia bertengger di P13 meski absen 3 seri (6 balapan total) cukup impresif karena itu berarti dia melakukan tugas pengembangan, pengumpulan data dan memberi hasil optimal di track terlaksana dengan baik. Dia bukan rider tercepat Honda, juga bukan rider yang berdiri kembali di podium untuk Honda menjadi kaki-tangan Honda, tetapi jelas dia adalah tulang punggung pengembangan Honda di track ketika Papi Albesiano menjadi tulang punggung pengembangan di pabrikan.
Terlepas dari masa lalu Honda dengan sang kakak, Valentino Rossi yang juga menjadi alasan kenapa pebulik Spanyol dan media Spanyol selalu menghinanya dan ingin menyingkirkannya; dia mendedikasikan pekerjaannya sepenuhnya untuk Honda. Belajar bahasa Jepang, belajar membaca huruf Kanji dan bahkan belajar menulis huruf Kanji bisa dianggap bonus loyalitas bagi Honda, pasca ditinggal oleh Marc Marquez, anak kandung yang jadi malin kundang. Gosip berhembus mengatakan dia adalah rider kesayangan petinggi Honda di Jepang karena dedikasinya pada pekerjaannya tanpa pernah mengeluh meski harus menanggung hinaan fans Marquez di tanah Eropa dengan sebutan "tidak pernah mencapai limit".
Gw jadi ingat ketika tahun 2023 Marc Marquez memberikan jari tengahnya kepada motor Honda (anggap saja bukan kepada Honda secara perusahaan) di #GermanGp Sachsenring. Gosip berhembus dari paddock Honda mengatakan bahwa petinggi Honda Jepang yang ada di paddock geram dengan bilang "Marc hanya perlu finish agar bisa membantu Honda mendapatkan data untuk membangun motornya. Kalau dia terus menerus memaksa motornya dan crash, dia akan cedera dan data juga tidak didapat". Fakta bahwa Honda sedang terpuruk dan lebih membutuhkan rider yang bisa finish ternyata bisa diselesaikan oleh Luca Marini tahun lalu. Dihina karena paling lambat tetapi dia crash paling sedikit dan finish paling banyak meski tanpa poin. Dan itu berbuah baik pada perkembangan Honda tahun ini, Zarco berhasil menang meski dengan kondisi balapan chaos, dan Mir berhasil podium.
Lagi-lagi Marini dihina karena meski dia paling sedikit crash tetapi dia tidak memberikan hasil yang layak disorot dan dipuji oleh media Spanyol bahkan Perancis yang sempat berharap Zarco mendepak Marini tahun depan tetutama ketika dia cedera. Faktanya dengan cedera bisa dibilang lebih parah dari Martin (sampai dikatai bakal pensiun loh) dia justru kembali ke track lebih cepat dari harapan orang dan mediayang berpikir dia akan pensiun dan mengumumkan perpanjangan kontrak dengan Honda yang jelas membuat media Perancis meradang. Sayangnya Zarco terlalu enggan mengemban tanggung jawab pengembangan yang mana Honda juga mungkin merasa lebih baik mempercayakan pengembangan motor kepada rider yang memberi data paling stabil daripada kepada rider yang sering crash.
Marini, crash 4 kali musim ini, absen 3 seri, finish nyaris selalu di area poin, bertengger di P13 tertinggal 20 poin dari Zarco di P10 klasemen, lebih baik 31 poin dari Joan Mir di P15 klasemen, berdasarkan fakta meski crash 4 kali dia bahkan tidak pernah mengaktifkan air bag dia yang artinya crash pun g terlalu parah menunjukkan bahwa dia cerdas bekerja untuk jangka panjang bagi Honda, dan petinggi Jepang tampak lebih menghargai itu dibandingkan performa hure-hure silih berganti dengan keluhan panjang-pendek soal kondisi motor ketika mereka gagal cepat dari para rekannya. Jangan tanya Mir, selalu ada hal yang membuat dia mengeluhkan Hondanya ketika dia gagal finish, sedangkan Zarco, sebenarnya dia jarang mengeluh sampai Honda memutuskan menunda pemberian part dan ketika part diberikan, dia tidak mendapat manfaatnya karena saat ini Honda nampaknya lebih menghitung bobot pendapat Mir yang pada akhirnya memberi mereka podium di homerace dibanding pendapat Zarco soal pengujian part. Marini bahkan sudah menguji mesin 2026 yang dengan senyum dia spill sebagai "lebih baik dari tahun ini".
Kesimpulannya: Untuk sebuah pabrikan, kecepatan dan performa memang diperlukan, tetapi itu tidak bisa diraih tanpa data yang stabil untuk pengembangan. Percuma bila memaksa motor yang memang belum ada pada kapasitasnya lalu berakhir cedera. Sudah badan sakit-sakit, masuk rumah sakit, data g ada, ya gimana motor bisa dikembangkan lebih baik klo lu g kasih data.

Tapi hambatan itu semua juga ada dari papi peri puig yg selalu prioritas rider #ktpS Entahla pada akhir nya papi peri puig mengagumi marini.
BalasHapusAaah kagak... Diamengagumi Marini karena dedikasinya, tapi kalau soal support Mir masih prioritas.
HapusAlon alon asal kelakon 😁
BalasHapus